Senin, 13 April 2020

Selamat datang untuk tahun 2020!

Sebuah akhir dari dekade dan juga waktu untuk membuka halaman baru dalam hidup. Gak kerasa kalo sekarang aku juga udah semakin tua, udah harus bisa dewasa dan bertanggung jawab akan keputusan-keputusan yang aku ambil. Jadi inget juga dengan pengalaman pekan lalu akan pertemuanku dengan seorang mbak-mbak sepantaran yang juga membuatku berpikir. Karena aku orang yang pelupa, kurasa perlu buat kutuliskan disini sebagai pengingat.

Waktu itu aku lagi nyalon seperti pada liburan-liburan biasanya di salon tante Isti. Tiba-tiba seorang mbak-mbak masuk dan bertanya tentang perawatan yang disediakan sekaligus secara santai ikut menanyakan tentang toko nasi padang yang lagi dibicarakan tante Isti dan asistennya karena lapar. Dari awal, perhatianku sudah tertarik ke mbak itu karena gayanya dan cara bicaranya yang sudah seperti akrab sekali, padahal kalau dilihat dari pertanyaannya jelas bahwa mbak itu adalah seorang costumer baru. Akhirnya dia pun keluar sebentar untuk membeli makan dan kembali untuk makan di salon sebelum dicuci rambutnya sambil melanjutkan berbincang-bincang dengan tante Isti dan asistennya. Aku pikir, betapa PD-nya mbak ini untuk sebegitu bebasnya bercerita dengan orang asing. Ketika sudah waktunya ia dilayani dan akupun sedang mendapatkan pelayanan, banyak ia bercerita tentang pekerjaannya sebagai caddie dan bahkan sampai tentang hidupnya yang berasal dari keluarga broken home. 

Berani banget! tapi kalau kuperhatikan, respon tante Isti dan asistennya malah baik dan tidak menggangap bahwa seseorang yang tiba-tiba membeberkan hidupnya seperti itu sebagai seseorang yang aneh seperti yang kupikirkan selama ini mengenai skenario serupa. Lebih mengejutkannya lagi, ternyata dia masih 20 tahun! Tepat seumuran sama denganku. Sementara dirinya sudah punya pekerjaan tetap dan bahkan bisa menyicil mobil, aku masih nyaman dalam lindungan orangtua secara finansial. 

Intinya, pengalaman itu membuatku sedikit minder, tapi lebih banyak menyadarkanku tentang pentingnya bersyukur dan jangan membanding bandingkan diriku dengannya karena jalan hidup dan kondisi kami memang berbeda. Aku juga jadi tersadar untuk berusaha memiliki kebanggan atas apa yang kupunya dan jangan berkecil harti serta lebih banyak habiskan waktu memikirkan masa depan (dalam hal yang baik) dibandingkan khawatir dengan hal-hal kecil terutama tentang pandangan orang. Aku ingin bisa membaur lebih baik, ya mungkin caranya adalah dengan lebih banyak bercerita dan jangan pikir bahwa hal-hal yang aku ceritakan adalah hal yang tidak penting. Not everyone, but most people would love to hear stories kok.

Oleh karena itu, untuk resolusi 2020, aku tidak mau menyusun yang muluk-muluk. Meskipun goal yang kutulis adalah sesuatu yang selalu kuharapkan setiap pergantian tahun, aku akan tetap menuliskannya lagi dan lagi sampai semuanya tercapai, karena laju seseorang berproses tidak pernah sama.

Semoga di tahun 2020 ini, Nasywa bisa:


  • Memperbaiki ibadahnya dan memperdalam iman islamnya dengan memperbanyak pengetahuan agama
  • Menghargai dan memperlakukan orang-orang dengan lebih baik
  • Berhenti terlalu peduli dengan pendapat orang-orang yang tidak relevan dan lebih fokus memaksimalkan diri untuk jadi lebih bermanfaaat bagi diri dan lingkungan sekitar
  • Hidup lebih sehat
  • Mengembangkan diri dengan kegiatan-kegiatan positif dan memiliki kebangaan pada apapun yang berhasil dicapai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar