Senin, 13 April 2020

Untuk saya, prefeksionisme itu adalah sebuah penyakit.

Dahulu, sebelum saya sadar ternyata saya adalah seorang prefeksionis, saya pikir prefeksionisme itu hanya sekadar begitu saja; keharusan untuk segala hasil yang ingin dicapai sesempurna mungkin. Tapi ternyata, kalau dikombinasikan dengan low self-esteem and a little dash of laziness, hasilnya lumayan membuat depresi. Mix those three, and voila! you get someone like me.

Lelah sekali, malah sampai ingin menangis sebenarnya, maaf cengeng. Jujur, untuk saya ini sangat menyebalkan dan membuat sedih. Saya sebal dengan bagaimana saya bisa sangat terganggu hanya karena tulisan saya tidak simetris. Bagaimana saya bisa sangat muak hanya melihat tulisan yang saya hias sedemikian rupa tidak sesuai standar, tidak sebagus yang diperkirakan dalam pikiran. Bahkan, bagaimana karangan yang seharusnya berisi curahan hati saya masih terasa jelek dan tidak pantas untuk dibaca. 

Dan akhirnya, hapus, robek, dan buang. Hancurkan saja semuanya. Hal-hal yang tadinya ingin saya kerjakan pun juga harus dihentikan, karena mau diapakan pun hasil karya saya tidak akan ada bagusnya di mata saya. Hanya yang saya anggap sempurnalah yang akan saya terima, itupun dengan tambahan proses yang berjalan mulus tanpa hambatan.

Kenapa sih saya harus menjadi orang yang sebegininya? Yang standarnya terpaku pada hasil milik orang lain, karena saya tidak cukup percaya diri untuk menjadikan hasil saya sendiri sebagai standar. Pasti harus terus dibandingkan dengan milik orang; yang jelas saja, sulit untuk dipenuhi. Sesuatu yang saya buat dan dibandingkan dengan milik orang tidak akan pernah masuk kategori sempurna di mata saya. Karena buatan saya memang cerminan diri saya, dan milik orang ya milik mereka, Tidak
mungkin identik sampai ke detil-detilnya.

Sayang bakat-bakat saya; skill berbahasa inggris, menggambar, kreatifitas, dan banyak lagi, yang saya tidak kembangkan hanya karena dirasa belum sempurna untuk ditunjukkan. 

Menulis surat untuk diri sendiri boleh kan? 


Dear Nasywa Florean,

It's okay to be a perfectionist. But please, banish those toxic thoughts of you being less than anyone else. You are not.

Remember that. You are as good as other people at many things, or better even. 



Selamat datang untuk tahun 2020!

Sebuah akhir dari dekade dan juga waktu untuk membuka halaman baru dalam hidup. Gak kerasa kalo sekarang aku juga udah semakin tua, udah harus bisa dewasa dan bertanggung jawab akan keputusan-keputusan yang aku ambil. Jadi inget juga dengan pengalaman pekan lalu akan pertemuanku dengan seorang mbak-mbak sepantaran yang juga membuatku berpikir. Karena aku orang yang pelupa, kurasa perlu buat kutuliskan disini sebagai pengingat.

Waktu itu aku lagi nyalon seperti pada liburan-liburan biasanya di salon tante Isti. Tiba-tiba seorang mbak-mbak masuk dan bertanya tentang perawatan yang disediakan sekaligus secara santai ikut menanyakan tentang toko nasi padang yang lagi dibicarakan tante Isti dan asistennya karena lapar. Dari awal, perhatianku sudah tertarik ke mbak itu karena gayanya dan cara bicaranya yang sudah seperti akrab sekali, padahal kalau dilihat dari pertanyaannya jelas bahwa mbak itu adalah seorang costumer baru. Akhirnya dia pun keluar sebentar untuk membeli makan dan kembali untuk makan di salon sebelum dicuci rambutnya sambil melanjutkan berbincang-bincang dengan tante Isti dan asistennya. Aku pikir, betapa PD-nya mbak ini untuk sebegitu bebasnya bercerita dengan orang asing. Ketika sudah waktunya ia dilayani dan akupun sedang mendapatkan pelayanan, banyak ia bercerita tentang pekerjaannya sebagai caddie dan bahkan sampai tentang hidupnya yang berasal dari keluarga broken home. 

Berani banget! tapi kalau kuperhatikan, respon tante Isti dan asistennya malah baik dan tidak menggangap bahwa seseorang yang tiba-tiba membeberkan hidupnya seperti itu sebagai seseorang yang aneh seperti yang kupikirkan selama ini mengenai skenario serupa. Lebih mengejutkannya lagi, ternyata dia masih 20 tahun! Tepat seumuran sama denganku. Sementara dirinya sudah punya pekerjaan tetap dan bahkan bisa menyicil mobil, aku masih nyaman dalam lindungan orangtua secara finansial. 

Intinya, pengalaman itu membuatku sedikit minder, tapi lebih banyak menyadarkanku tentang pentingnya bersyukur dan jangan membanding bandingkan diriku dengannya karena jalan hidup dan kondisi kami memang berbeda. Aku juga jadi tersadar untuk berusaha memiliki kebanggan atas apa yang kupunya dan jangan berkecil harti serta lebih banyak habiskan waktu memikirkan masa depan (dalam hal yang baik) dibandingkan khawatir dengan hal-hal kecil terutama tentang pandangan orang. Aku ingin bisa membaur lebih baik, ya mungkin caranya adalah dengan lebih banyak bercerita dan jangan pikir bahwa hal-hal yang aku ceritakan adalah hal yang tidak penting. Not everyone, but most people would love to hear stories kok.

Oleh karena itu, untuk resolusi 2020, aku tidak mau menyusun yang muluk-muluk. Meskipun goal yang kutulis adalah sesuatu yang selalu kuharapkan setiap pergantian tahun, aku akan tetap menuliskannya lagi dan lagi sampai semuanya tercapai, karena laju seseorang berproses tidak pernah sama.

Semoga di tahun 2020 ini, Nasywa bisa:


  • Memperbaiki ibadahnya dan memperdalam iman islamnya dengan memperbanyak pengetahuan agama
  • Menghargai dan memperlakukan orang-orang dengan lebih baik
  • Berhenti terlalu peduli dengan pendapat orang-orang yang tidak relevan dan lebih fokus memaksimalkan diri untuk jadi lebih bermanfaaat bagi diri dan lingkungan sekitar
  • Hidup lebih sehat
  • Mengembangkan diri dengan kegiatan-kegiatan positif dan memiliki kebangaan pada apapun yang berhasil dicapai

Sabtu, 23 Mei 2015

Lama tidak bertemu! Saya sedang berusaha menata ulang hidup saya yang jalanya sungguh amburadul, tidak teratur. Doakan saja ini gak jadi wacana semata ya. Soalnya ini masa-masa krusial bagi saya. Kenapa? Karena saya sudah di-ambang pintu keluar dari SMA. Gak terlalu dekat sih, tapi cukup dekat untuk sewajibnya dikhawatirkan dari sekarang.

Kalau boleh jujur, saya sungguh merasa pesimis. Tujuan saya sekarang sudah mantap, FK. Seperti ibu, seperti om, seperti orang-orang disana yang nantinya bisa menyembuhkan banyak orang lainnya. Masalahnya adalah bagaimana saya bisa kesana dengan nilai yang pas-pasan. Serius, nilai saya itu pas-pasan. Cuma 81 (Dari tiga semester, sedang menunggu yang ke empat dan mengusahakan yang ke lima). Kalau mau mengambil sisi positifnya sih, untung saja bukan 7. Tapi 81 saja tidak cukup, saat rata-rata saingan saya itu 85-87. Itu jauh. Saya takut saya gak bisa mengejar. Belum lagi, saya gak punya prestasi lomba-lomba macam begitu lah.

Bukan berarti saya menyerah sih. Saya masih gamau menyerah. Karena saya masih bisa usaha, dan walaupun kelihatannya sangat gak mungkin juga, saya masih punya tuhan. Setidaknya usaha dulu, Insyaallah nanti terbantu, katanya. Apalagi ketika saya menemukan satu bait ini dari sebuah puisi:

Do not go gentle into that good night,
Old age should burn and rave at close of day;
Rage, rage against the dying of the light.

Hasil karya Dylan Thomas, yang saya temukan saat menonton Interstellar. Lumayan menjadi motivasi lho. Iya iya. Mungkin saya gak punya peluang. Benar-benar gak ada. Tapi apa gunanya kalau saya cuma diam? Setidaknya kalau saya usaha, saya meninggalkan sebuah perlawanan, sebuah percikan. Dan itu saja buat saya cukup, sebagai sebuah bukti eksistensi.

Ah, dengan itu, sekarang saya hanya bisa berdoa. Menunggu semoga nilai semester empat bagus. Bersiap-siap agar bisa mengusahakan semester lima berakhir dengan cemerlang, hingga 81 itu setidaknya bisa menjadi 85.

Bismillah for FKUNS or FKUNPAD!


                                     

Minggu, 10 Mei 2015

Halo! Sudah lama ya saya gak nulis lagi di blog. Bukan, bukan karena sibuk. Tapi berhubung saya orangnya gampang kecapekan, tiap malam gak pernah sempat buat ngapa-ngapain lagi selain menghempaskan diri dikasur.
Semua post baru di blog ini juga saya hapus, rasanya kurang menceritakan, jadi sekali lagi ingin saya ulang dari nol. Gak papa kan ya? 

Hari ini saya dan keluarga pergi jalan-jalan ke Kuntum Farmfield, letaknya di Ciawi. Sebenarnya dulu sempat mau kesana dengan ibu, tapi karena kesorean akhirnya nggak jadi. Saya kira perginya kami sekeluarga hari ini tuh karena ibu inget bahwa kita gajadi kesana, jadinya pingin dijadiin. Eh, tapi ternyata family gathering dari klinik bersalin tempat ibu kerja. Yah, yang penting akhirnya ke Kuntum juga!. 

Kami, sampai disana pas sudah rada siang. Maklum, persiapannya selalu lama. Kan anaknya cewek semua, hihi. Disana sudah lumayan ramai, tapi gak seramai kalau kita ke Dufan kok. Setelah parkir, kami langsung menuju semacam lobi depannya gitu, dimana banyak dijual souvenir semacam bunga-bunga dan susu sapi. Bunganya cantik. Tapi saya berani jamin, kalau sudah dibawa pulang, semingguan saja pasti sudah mati.


Melewati sebuah kolam ikan samping lobi, disitulah pintu masuk ke farmfield yang sebenarnya berada. Yay!


Untungnya tiketnya sudah dibelikan oleh pihak klinik, jadinya kami tinggal duduk-duduk sebentar, lalu bisa masuk. Di pintu masuk itu disediakan berbagai ukuran topi petani, yang sebenarnya ada namanya tapi saya gak tau. Biar lebih terasa ke-pertanian-annya dan bagus untuk berfoto-foto, lebih baik dipakai saja, hihi.
Begitu masuk, kami langsung disambut oleh kandang kambing. Ribut. Banyak anak kecil sedang memberikan susu ke kambing-kambing tersebut. Caranya? Pake dot khusus untuk kambing. Hebat banget kambing-kambing disini, sangat modern.


Kambingnya gak tertarik sama saya.

Lanjut dari situ, ada tempat dimana para pengunjung bisa membeli makanan khusus hewan-hewan disana. Semuanya serba 5.000, kecuali untuk susu bayi sapi, yang harganya 10.000. Bagaikan berada di VANQIS!. Di tempat itu juga ada kandang untuk para bola bulu, eh, maksud saya kelinci. Lucu sekali mereka, banyak yang saling timpa-menimpa, dan ada juga yang sedang tidur sambil memojokkan diri ke dinding kayu. Andaikan mereka bisa diajak pulang...

Selain kelici, ada kandang marmut dan hamster juga disitu. Tapi saya gak berani main-main sama marmut, soalnya kata adik saya marmut itu ganas. Mungkin mereka sebenarnya sedang memikirkan aksi balas dendam pada umat manusia karena keseringan dijadikan alat percobaaan ya. Seram.

Di kandang hamster, saya menemukan seorang teman kecil yang sangat senang memanjat sangkarnya.
 
         Semangat!!

Di belakang tempat penjualan itu, ada kandang sapi. Pastinya kurang mengenakkan untuk dilihat karena pengunjung mendapatkan full-view pemandangan lantainya yang penuh ampas makan pagi hewan mamalia tersebut. Yuck.

Notice me, moo-chan!

Mengingat bahwa kami sebenarnya sedang dalam rangkaian acara family gathering, kami pergi ke tempat berkumpul dahulu sebelum keliling-liling lagi nanti. Kebanyakan anak dari rekan-rekan ibu masih sangat kecil. Hanya satu orang yang umurnya sepantaran saya, dan itupun cowok. Gengsi ah kalau mau kenalan.
Jadi setelah makan snack dan ngobrol-ngobrol sebentar, saya menemani adik-adik untuk mulai berjalan lagi. Sinar matahari semakin terasa panasnya tapi tidak menyurutkan semangat kami untuk melihat hewan-hewan lainnya.
 
Apakah ini soang atau angsa?

Isinya ternyata memang cuma sedikit. Walaupun saya tidak mengikuti kegiatan pemerahan susu sapi yang sudah dilakukan saat pagi ataupun berkebun. Bukan berarti hari ini tidak menyenangkan kok. Saya bahagia bisa banyak berfoto dengan hewan-hewan lucu, dan pulang dengan kulit sedikit belang serta bermandikan keringat. 
 
Ja matta ne!



 

Minggu, 20 April 2014

As I thought, I'm never good at expressing what I feel. Be it in words or writing. It always ended up into something weird and incoherent. I should stop :) because this is me. I can't be like anyone else.